Senin, 13 Oktober 2008

MENTAL ILLNESS


Dalam sebuah wawancara dengan mantan penderita kejiwaan, sedikit terungkap bahwa dalam pandangan mereka benda-benda yang bagi orang normal dianggap indah tidaklah begitu sudranya. Sebaliknya benda-benda yang kita anggap menjijikkan, bagi mereka adalah keindahan. Itulah sebab mereka gemar telanjang mengorek-orek tempat sampah dan gemar bersolek dengan plastik. Ini benar-benar gaya hidup dan filosofi sufi kebendaan tingkat tinggi.

Berbicara tentang mental illness yang istimewa, ingatan saya kembali pada masa kecil di desa kelahiran di daerah Pacitan Timur. Waktu itu ada tiga penderita mental illness yang melegenda;
1.Sulasto aka Silas
2.Jeboh si pedandan heboh
3.NN
Dan suatu kehormatan bisa menuliskan profil ketiganya disini.

Sulasto aka Silas
Istimewa, terkenal. Kegemarannya numpang dibak belakang truk dan membantu menaik turunkan barang-barang para pedagang pasar ( sistim pasar di daerah sana masih memakai pasaran, Pahing di pasar Desa A, Kliwon di desa B dan seterusnya ).

Silas sering tidur dirumah kami. Ini yang membuat saya sedikit lebih mengenalnya. Mengenal Silas itu berarti tahu kapan waktu yang tepat untuk membiarkannya melamun sendiri atau pergi. Mengenal waktu hari-hari kapan dia biasanya kumat dan memaki-maki tidak karuan. Ya kumatnya hanya sebatas berteriak sendiri dan bahasa-bahasa yang tidak nyambung, tidak ada kumat ngamuk secara fisik misalnya merusak barang seperti yang biasa orang normal lakukan. Saya sendiri merasa tersanjung dengan makiannya ketika dia kumat pada ibu saya yang dalam suatu kejadian memarahi si little Hitler ini. Ok Silas Schimhuber karena perjuanganmu, kunaikkan jabatanmu menjadi komandan divisi Frinz Eugen Waffen SS.

Mengenai hidupnya yang dramatis, Silas mempunyai kisah petakanya sendiri dan bagi orang kebanyakan kisahnya sudah bukan rahasia yang patut ditutupi;

“Sulasto dulu adalah seorang santri tampan di daerah sekitar Pacitan. Kisah cintanya yang konon tidak direstui orang tua pihak wanita membuatnya gelap mata. Wanitanya dibawa kabur, versi lain mengatakan wanitanya hamil. Keluarga pihak wanita murka, baju santri Sulasto dilempar kelaut kidul dengan tambahan guna-guna. Sulasto jadi gila. Sulasto si Silas”

Dari rumor tersebut, suatu hari ( kalau tidak salah kira-kira ketika saya masih smp) ketika kami berdua sedang gegeni di pawon ( menghangatkan diri di perapian dapur ) saya menanyakan kebenaran kisahnya itu, ya tapi dengan sedikit kecemasan pertanyaan itu bakal berakibat kumatnya Silas dan saya dipanggang habis-habisan dalam makiannya. Tapi kenyataannya tidak ada jawaban serius, dia menunduk dan hanya bilang;

“Laut, laut laut”
“Wedok, wedok,wedok”

Dan saya berkesimpulan kisah itu memang benar.

Silas mempunyai kegemaran menulis disembarang tempat kapanpun dia mau. Banyak buku-buku, majalah, komik maupun buku sekolah saya yang jadi sasaran kejeniusan dia. Semuanya ditulisi bahasa arab, cuma nama dia yang dia tulis dengan dalam abjad bahasa Indonesia; Sulasto. Anehnya kesemuanya mempunyai struktur kemiripan; bahasa arab, bahasa arab, bahasa arab, Sulasto. Seperti sedang berimajinasi dalam dunianya dia adalah seorang pengarang buku besar sold out, Silas tidak lupa untuk memberitahukan publik bahwa dia punya gaya penulisan tersendiri dan wajib menandatanganinya.
Kini saya baru menyadari Silas memang istimewa.

Saya sekarang sudah tidak tahu kabar si Silas Barret ini. Tapi toh kalapun dia baik-baik di dunia kejam ini, saya yakin dia masih menikmati tunggangan di belakang bak truk dan masih lantang berteriak keras-keras; “Still Crazy!!!”

Jeboh
Jeboh si pedandan heboh. Kalau Silas selintas mirip Syd Barrett, Jeboh adalah hippiesnya. Lucu kalo kedua orang itu bertemu. Sering diledek anak-anak kampung sebagai pasangan serasi. Dan tampaknya mereka berdua menikmatinya. Saya sendiri tidak terlalu tahu dengan latar belakang Marlyn Monroe kampung kami itu. Yang jelas terlintas dalam ingatan hanya gaya sanggul dan dandanannya yang tidak mungkin menjadi trend untuk 1000 tahun kedepan. Beritanya Jeboh si pedandan heboh sekarang sudah meninggal, menjadi pesinden cantik di akherat.


NN
Yang terakhir ini saya tidak terlalu kenal dan namanya lupa. Sebatas mengenalnya ketika pulang sekolah dulu dan sering berpapasan dengannya. Visualnya bersih, sering memakai topi. Sedikit lebih tua dari Silas tapi lebih muda dari Jeboh. Sering sekali memberi nasehat-nasehat aneh. Dulu sering dimintai anak-anak untuk meramal. Ramalannya tidak ada yang tepat.

Si NN ini sudah tidak terlacak juga. Tidak buat Friendster.

Gila Gila Gila.
Gila hanya berbeda karena kita terlanjur mendefisikan waras sedikit lebih cepat.



1 komentar:

Unknown mengatakan...

edjan kowe tjen bener-bener edjan mosok wong gembloeng mbok wawancaranie Dhan...
Po tjen sedjatine kowe yo wes edjan...