Rabu, 27 Agustus 2008

BUMI EMAS TANAH AIRKU


BUMI EMAS TANAH AIRKU
Gesang & Sundari Soekotjo

Aku percaya bumi emas tanah airku
Sepanjang masa nan menghijau selalu
Di sana hutan-hutan rimbun
Memanggilkan hujan

Sungai dan danau
Menyimpan airnya bengawan
Bumi digali kan berlimpah harta abadi
Silih berganti lumbungnya ditanami


Tanpa bermaksud berlebihan, jantungku berdebar mendengarkan lagu ini. Sebuah perasaan alami yang menandakan berhadapan dengan lagu hebat. Setelah menyelesaikan keselruhan bait, nada demi ada, tebakanku betul. Berdiri sebuah lagu yang jenius menyusupkan kekecewaan dan harapan dalam klise lirik mengagungkan kekayaan bumi.

Gesang memulainya dengan begitu mengagumkan dengan mampu memindahkan khayalan menjadi sebuah kepedihan. Pada perpindahan nada yang dilakukan sang maestro pada bait terakhir kalimat “Aku percaya bumi emas tanah airku”, sebuah kejujuran nada yang menggambarkan kekecewaan dituangkan dengan begitu jelas dan menyayat.

Bait selanjutnya kesedihan itu mulai dihilangkannya dengan pemakaian nada-nada kebapakan akan harapan. Suara-suara fals tua yang ia nyanyikan begitu mendinginkan hati, tertatih-tatih dan meledak pada puncaknya. Mirip dengan kharisma yang dibawa seorang Johnny Cash, dengan versi yang berbeda tentunya.

Sundari melanjutkan dialog ini dengan suara vokalnya. Datar meliuk-liuk tapi tak terlalu istimewa. Inilah menariknya lagu duet Gesang-Sundari. Visual yang disajikan seakan menggambarkan dialog antara bapak dan anak. Sang bapak yang petani miskin dengan suara parau menceritakan kondisi kekayaan alam, sedangkan sang anak mendengarkan kagum sampai melupakan perutnya yang seharian belum terisi nasi. Fantasiku begitu, atau cuma melebih-lebihkan?

0 komentar: