Selasa, 26 Agustus 2008

Menjadi Naga


Semua orang tua pasti akan mengidamkan anaknya berkalung tali mumi bernama dasi. Kerja di pemakaman menghitung jumlah nisan, memindahkan keuntungan saldo peti mati dan akhirnya tanpa tersadar mereka sudah menjadi mayat berusia 1500 tahun. Itu adalah gambaran ketika saya lulus SMU. Konvensional terlihat mengerikan.

Tak ada senyum sedikitpun dari orang tua saya ketika mereka harus menandatangani sehelai kertas propaganda registrasi akademi desain grafis. Di mata mereka itu bagaikan sebuah potongan sandi yang harus dipecahkan dengan mesin enigma dan hasilnya berbunyi “apa Hitler kecil ini akan terjamin hidupnya jika bermain perang-perangan dengan mesin cetakan si Gutenberg?”

Tahun pertama akademi adalah hal yang sangat berharga. Pertemuan dengan para pemberontak-pemberontak pixel senior menaikkan filosofi hidup saya setingkat lebih tinggi. Setiap hari berusaha memaksimalkan ide dan berkeringat cat. Saat itu saya bagaikan indian kuno yang mencoba belajar musik blues dari para negro.

Ada sensasi luar biasa ketika melihat diri sendiri di cermin dan sebuah goresan cat air berwarna biru masih menempel dimuka.

Ada emosi yang menggebu ketika bercinta dengan komputer dan melihat detik-detik menegangkan menunggu kelahiran putri pertama keluar dari rahim printer sambil berguman;

“Dia sangat cantik”.

Memandanginya, kemudian saya yakin

"YA!"

Inilah adalah dunia imajinasi yang akan saya pilih.

Dan saat itulah tiba-tiba kedua tangan saya berubah menjadi cakar naga.

Believe it or not.

1 komentar:

aryosaloko mengatakan...

suwun yo Dan, tulisan iki apik banget & isinya selalu menyemangatiku (tak bosan aku menbacanya berulang-ulang)