Rabu, 27 Agustus 2008

I HATE BJORK, MORLEY, COBAIN



Mencoba mengerti karakter manusia, sedikit banyak akhirnya saya menyimpulkan bahwa dalam dunia 3X3 ukuran kost, berikut ini adalah jenis-jenis kepala yang sering saya temui.

BJORK
Ini adalah tipikal manusia dusta. Kebanyakan dimulai pada kelas-kelas seni menyebalkan. Alur terjebak komunitas begitu kental terasa. Selalu memperbincangkan bahwa musik yang ia dengar adalah kelas satu, film yang ia tonton adalah kasta film berat, bacaan yang ia lahap adalah sastra kelas tinggi. Eksistensi
yang sangat ia butuhkan adalah ia perlu selalu menunjukkan selera ia tersebut, dimanapun, kapanpun.
Dasar pembual.
Pemain
Yang ngaku desainer grafis, yang ngaku orang iklan, yang ngaku orang film, yang ngaku fotographer, yang ngaku pemusik anti komersil bla bla bla
Musik
Bjork, Sigourney Rose, Tom Yorke, David Bowie, Joy Divison dll
Film
Pelem-pelem Cannes, Iran, Stanley Kubrik, Gus Van Sant, Garin Nugroho dan film lain yang membuat dia berkesempatan bilang “Berat, Lu ga bakalan paham”
Kata andalan
“Award”

MORLEY

MORLEY GET UP, STAND UP
Tipikal yang banyak menjamur di kampus era awal. Merasa dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari revolusi Cuba. Banyak memasang poster-poster gerakan. Sering memakai tangan kiri daripada kanan, karena kanan untuk makan, kiri untuk cebok. Sering memakai embel-embel solidaritas (baca : konon). Demo adalah ritual mutlak untuk mendapatkan predikat aktivis pembela kebenaran.
Dasar penipu.
Pemain
Yang ngaku aktivis kampus, yang ngaku mapala, yang ngaku kamra, yang ngaku kampret
Musik
Morley, RATM, sedikit Morley, Anthem Soviet Union 1979 dll
Film
Tragedi Trisakti, dokumentasi Munir, Pemanasan Global, Film-film buruh dll
Kata andalan
“Turunkan”

MORLEY NO WOMAN NO CRY
Membelot dari tipe get up stand up, tipe ini hanya peduli satu kata; Java dan Jamaica bersaudara menghisap ganja. Pola pikir tidak perlu sama. Yang penting anda bisa semirip mungkin dengan pencipta lagu “I Shoot The Hansip”.
Dasar pemakai.

Pemain
Yang ngaku seniman jalanan, yang ngaku pemadat, yang ngaku bandar, yang ngaku anak haram Bob Morley.
Musik
Morley, Iwan Fals, Slankers, BIP, Kompilasi musisi jalanan dll
Film
Film silat dan tembak-tembakan
Kata andalan
“Segaris”

COBAIN
Tipikal trend. Selalu memakai attitude seperti bunglon. Sangat bangga dipanggil anak band. Anda jangan bertanya sejarah musik, tanya alamat distro padanya.
Dasar pelawak.
Musik
Nirvana Grunge, Dream Theater Band-band Punk beken, RocknRoll terbaru, Emo- emonan dan mp3 lagu cinta gaya mendesah ala Indonesia.
Film
Film Hollywood sejenis American Pie, film tembak tembakan, Film Indonesia terbaru yang berbau anak band.
Kata andalan
“Ada nomor cewek?”

BUMI EMAS TANAH AIRKU


BUMI EMAS TANAH AIRKU
Gesang & Sundari Soekotjo

Aku percaya bumi emas tanah airku
Sepanjang masa nan menghijau selalu
Di sana hutan-hutan rimbun
Memanggilkan hujan

Sungai dan danau
Menyimpan airnya bengawan
Bumi digali kan berlimpah harta abadi
Silih berganti lumbungnya ditanami


Tanpa bermaksud berlebihan, jantungku berdebar mendengarkan lagu ini. Sebuah perasaan alami yang menandakan berhadapan dengan lagu hebat. Setelah menyelesaikan keselruhan bait, nada demi ada, tebakanku betul. Berdiri sebuah lagu yang jenius menyusupkan kekecewaan dan harapan dalam klise lirik mengagungkan kekayaan bumi.

Gesang memulainya dengan begitu mengagumkan dengan mampu memindahkan khayalan menjadi sebuah kepedihan. Pada perpindahan nada yang dilakukan sang maestro pada bait terakhir kalimat “Aku percaya bumi emas tanah airku”, sebuah kejujuran nada yang menggambarkan kekecewaan dituangkan dengan begitu jelas dan menyayat.

Bait selanjutnya kesedihan itu mulai dihilangkannya dengan pemakaian nada-nada kebapakan akan harapan. Suara-suara fals tua yang ia nyanyikan begitu mendinginkan hati, tertatih-tatih dan meledak pada puncaknya. Mirip dengan kharisma yang dibawa seorang Johnny Cash, dengan versi yang berbeda tentunya.

Sundari melanjutkan dialog ini dengan suara vokalnya. Datar meliuk-liuk tapi tak terlalu istimewa. Inilah menariknya lagu duet Gesang-Sundari. Visual yang disajikan seakan menggambarkan dialog antara bapak dan anak. Sang bapak yang petani miskin dengan suara parau menceritakan kondisi kekayaan alam, sedangkan sang anak mendengarkan kagum sampai melupakan perutnya yang seharian belum terisi nasi. Fantasiku begitu, atau cuma melebih-lebihkan?

Selasa, 26 Agustus 2008

Menjadi Naga


Semua orang tua pasti akan mengidamkan anaknya berkalung tali mumi bernama dasi. Kerja di pemakaman menghitung jumlah nisan, memindahkan keuntungan saldo peti mati dan akhirnya tanpa tersadar mereka sudah menjadi mayat berusia 1500 tahun. Itu adalah gambaran ketika saya lulus SMU. Konvensional terlihat mengerikan.

Tak ada senyum sedikitpun dari orang tua saya ketika mereka harus menandatangani sehelai kertas propaganda registrasi akademi desain grafis. Di mata mereka itu bagaikan sebuah potongan sandi yang harus dipecahkan dengan mesin enigma dan hasilnya berbunyi “apa Hitler kecil ini akan terjamin hidupnya jika bermain perang-perangan dengan mesin cetakan si Gutenberg?”

Tahun pertama akademi adalah hal yang sangat berharga. Pertemuan dengan para pemberontak-pemberontak pixel senior menaikkan filosofi hidup saya setingkat lebih tinggi. Setiap hari berusaha memaksimalkan ide dan berkeringat cat. Saat itu saya bagaikan indian kuno yang mencoba belajar musik blues dari para negro.

Ada sensasi luar biasa ketika melihat diri sendiri di cermin dan sebuah goresan cat air berwarna biru masih menempel dimuka.

Ada emosi yang menggebu ketika bercinta dengan komputer dan melihat detik-detik menegangkan menunggu kelahiran putri pertama keluar dari rahim printer sambil berguman;

“Dia sangat cantik”.

Memandanginya, kemudian saya yakin

"YA!"

Inilah adalah dunia imajinasi yang akan saya pilih.

Dan saat itulah tiba-tiba kedua tangan saya berubah menjadi cakar naga.

Believe it or not.

Minggu, 24 Agustus 2008

Bongore3


Ini semua tentang ocehan sepihak.....