Minggu, 02 Mei 2010

Lir-ilir


Lir-ilir-lir ilir tandure wes sumilir
Waktunya sudah datang

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Begitu berkilau semangatnya seperti manusia baru

Cah angon cah angon peneken belimbing kuwi
Jiwa-jiwa yang bebas raihlah impianmu

Lunyu-lunyu yo peneken
Sesulit apapun teruslah panjat

Kanggo ngumbah dodotiro-dodotiro,dodotiro-dodotiro
Untuk memahami arti hidup sebenarnya

Kumithir bedah ing pinggir
Ketika hambatan datang

Damono jlumatono
Teruslah bersemangat, jangan sampai padam cita-citamu

Kanggo sobo mengkosore
Untuk mengukir sejarahmu sendiri

Mumpung padhang rembulane
Selagi masih muda dan terang-terangnya

Mumpung gede kalangane
Selagi masih luas kesempatannya

Yo surako-surak hiyo
Agar ketika ajal menjemput kamu bisa berteriak "Heil Hargo!!!"

Selasa, 02 Februari 2010

Fight One More Round


Mulanya ini hanya kekesalan susahnya magang, kekesalan dengan materi statis kampus, kekesalan bodohnya berurusan dengan IPK, kekesalan menjadi mahasiswa tak patuh absensi, tapi di balik itu adalah kesenangan melakukan masturbasi dengan sesuatu bernama: “iklan!”

Tak ingin cukup bersertifikat dan undangan manten berlabel sarjana, apalagi menunggu panggilan magang yang tak kunjung tiba. Darah muda membuat kita ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang!

Cerita dimulai

Seminggu sekali kita mencoba berkumpul. Membawa buku, majalah, buku sisa produksi iklan biro beneran pemberian almarhumah Anggeng dan membahasnya di kedai kopi dekat perempatan jalan tempat waria bersemangat tinggi biasa mangkal dan berusaha menjual dada palsunya (entah kenapa kadang saya merasa menjadi waria itu)

Menu kopi pahit tapi saya pilih teh

Pinasthika. Festival iklan Indonesia yang mungkin paling dicinta, ya setidaknya ia memberikan orang sedikit ruang terjangkau untuk mengenal dunia iklan yang konon sering dipindah channelnya ketika ia tiba. Kami menggarisi namanya besar-besar sebagai tujuan dari setiap berkumpul. Tak peduli beberapa orang bilang Pinasthika tak seberapa levelnya, bagi kami ia tetap istimewa, mengajarkan kemandirian, sesuatu yang harus kami pelajari dalam proses kami dan bukan cuma berlindung pada berbagai kemudahan yang diberikan institusi tempat kuliah atau bekerja.

Brief kami sederhana (Jogja brief); kita menggeletakkan uang seribu di meja kemudian mulai bertanya uang seribu tadi akan jadi karya apa? Dan itulah yang kami lakukan di meja warung kopi tersebut.

Dua bulan sebelum hari H, kami bergerak berinisiatif, ber-
scam ria. Menulis daftar perusahaan-perusahaan yang kiranya sesuai dengan idenya, mencari alamat-alamat LSM-LSM sampai dikira intel. Berusaha bertemu langsung dengan pimpinannya, ada yang meminta proposal, ada yang menceramahi konsepnya karena dianggap salah mendefinisikan gender, bahkan ada yang meminta presentasi. Tidak semua disetujui.

Waktu itu rasanya susah sekali meskipun sekedar menumpang nama. Hari-hari seperti dihabiskan mencari ijin saja (beberapa tetap berusaha kami jual), belum lagi dengan sikap beberapa teman yang seringnya kepanasan menjadi merasa tidak yakin (seperti biasa) dengan apa yang kami lakukan dan terpaksa harus disemangati berkali-kali. Bahkan di eksekusi terakhir tinggal beberapa saja yang datang. “Pasti ada hasilnya” keyakinan saya waktu itu seperti itu, sambil terus menggergaji lemari pribadi untuk iklan batik.

Hari dan jam terakhir pengumpulan akhirnya 5 entry iklan media non konvensional berhasil didaftarkan terburu-buru. Kami memilih untuk fokus pada kategori ini karena tidak dibutuhkan publikasi di media massa yang akan memakan pendanaan lebih besar (lha buat patungan biaya produksi dan pendaftaran aja masih ngos-ngosan disamping malas berurusan dengan kampus). Dalam pikiran saat itu kategori media iklan non konvensional hanya memerlukan dokumentasi publikasi di tempat sehingga pengumpulan entry tidak menyalahi aturan festival.

Beberapa konsep iklan TVC, cetak dan radio kami simpan kembali.


Malam penganugerahan 8 Agustus 2009. Ini adalah taruhan untuk masuk ke dalam dunia iklan atau melupakannya dan menjadi pengusaha tambal ban seluruh Indonesia. Rasanya bergemuruh dada ini ketika pengumuman memasuki kategori iklan media nonkonvensional meskipun sebelumnya dari hasil pengumuman finalis, dengan 4 karya yang masuk kami tahu akan mendapat medal.

Dan inilah saatnya tulisan pembawa acara itu itu berubah menjadi suara :

“HW&GM Indonesia - Kaos Keris - SILVER
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Cobalah Batik - GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - Best of Unconventional Media, GOLD
plok plok plok maju ke panggung

“HW&GM Indonesia - AGENCY OF THE YEAR 2009"
plok plok plok berat rasanya kaki ini ke panggung untuk ukuran gerombolan mahasiswa

Ahh sampai sekarang gemuruh tepuk tangan itu masih terasa di kuping

Dari 5 entry yang didaftarkan, kami mendapat 5 medal. Saya segera menghubungi orang tua dan menjelaskan kenapa lulus lama.
Janji saya akan memberikan kesuksesan dua kali lebih besar dibanding anak lain yang lulus kuliahnya dua kali lebih cepat sedikit terlihat menurut versi sepihak.

Malam itu serasa mabuk kepayang, merayakannya di tempat termewah; “angkringan” mabuk es teh. Sambil lesehan seluruh piala ditaruh berjajar di atas tikar di pinggir jalan, setiap orang yang lewat pasti akan mengira kami menang pertandingan sepak bola atau lomba lari. Kami benar-benar sombong malam itu. Wes ben.


Menjelang pagi kami jadikan wallpaper komputer foto almarhum yang sudah memberikan nasehat “jika kamu membenci sesuatu, berusaha datang masuk ke sarangnya dan perbaiki dia dengan apa yang kamu yakini”. Piala-piala itu kami pajang tepat di depannya. Saya tahu dia di agency semesta abadi sana pasti bangga.

Citra Pariwara 2009.

Malam itu kembali berkumpul, memutuskan apakah ikut atau tidak dalam festival ini. Kami yakin dengan entry yang kami miliki, kesempatan mendapatkan medal itu ada. Tapi malam itu, sebagian dari kami sudah merasa tidak nyaman. Cerita yang beredar sebagian sudah menjadi takabur tidak lebih dari sehari, sebagian masih bisa memahami untuk apa tujuan semula, sebagian pasif seperti biasa.


Malam dengan suguhan mie rebus ayam bawang


Digaris bawahi kalimat; “Cukup di sini saja tak usah ke Citra Pariwara”. Lebih baik malam itu mundur selangkah untuk lompatan yang lebih jauh, berusaha menjadi kuat atau minimal memberi kesempatan memperbaiki sesuatu menjadi makin baik dengan teguran yang berbeda. Jika mengingat wejangan James Corbett "To become a champion, fight one more round" maka ronde selanjutnya adalah melawan attitude diri kami terlebih dahulu. Citra Pariwara dan yang lainnya bisa menunggu disaat yang tepat.


Tapi kami masih bahagia dan bangga dengan yang kami lakukan

Kebanggaan seumur hidup yang rasanya tak berlebihan kami sematkan

Karena melakukannya dengan tangan kami sendiri

Maturnuwun Gusti

Maturnuwun.

Saya suka skenario yang ini.

Minggu, 03 Januari 2010

O.K


Saya dengar cuma perlu tiga hal untuk berhasil :
1. Cita-cita yang besar.
2. Kerja keras.
3. Keyakinan akan terwujud.

Pasti atau tidak sama sekali.

Tapi saya dengar juga :
The person who doesn't make mistakes is unlikely to make anything.

Proses. Saya siap.

Jumat, 13 November 2009

Ketika


Ketika seseorang bilang persaudaraan
Dari situlah awal kekejaman sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang cinta
Dari situlah awal kekejaman sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang ikatan
Dari situlah awal kekejaman sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang karena kita bla bla bla
Dari situlah awal kekejaman sesungguhnya dimulai

Jangan tanya, bahkan jangan pernah sekalipun bilang.
Lakukan saja jika kau memang menyakininya.

Kamis, 22 Oktober 2009

Philosophy


My majoring in philosophy was closely related to the pugnacity of my childhood. I often ask myself these questions :

What comes after victory?

Why do people value victory so much?

What is “glory”

What kind of “victory” is glorious?

When my tutor assisted me in choosing my courses, he advised me to take up philosophy because of my inquisitiveness. He said;

“Philosophy will tell you what man lives for.”

-Bruce Lee-

Selasa, 29 September 2009

Dasar.


Dulu rasanya gampang sekali melewatinya
Berjalan berkilo-kilo melewati perbukitan
Berangkat jam 6 pagi pulang jam 1 siang
Selama 9 tahun bersekolah dasar dan menengah

Kini melewati satu blok saja rasanya sudah mengeluh
Tinggal duduk di bis saja mengeluh
Antre kereta api 15 menit saja mengeluh
Apa karena sudah mahasiswa?

Malunya kalo nanti temen sekampung bilang:

"Dasar orang kota"

Sialan itu makianku dulu.

Minggu, 20 September 2009

Timental


Membentuk tim yang hebat tidak hanya berdasarkan unsur kemampuan per-individu semata. Beberapa petuah menganjurkan mempertimbangkan bagaimana karakter mental dan kemampuan bersosialisasinya dengan anggota tim yang lain untuk memperkuat tujuan yang dibuat bersama.

Rumusnya sederhana: kemampuan bisa terus naik dengan mental yang baik, sebaliknya kemampuan yang ada akan terus menurun dengan mental yang buruk.

Beberapa tipe mental di bawah ini pasti akan anda temui dalam sebuah tim. Dari pengalaman, yang terbaik tentu saja mental baja dan yang terburuk adalah mental UKM dan juragan.

Ketika anda berhasil menganalisa setiap kemampuan mental yang ada dalam kerja sebelumnya, kedepannya bersiaplah untuk benar-benar memilih partner sehati yang bersedia ngarso rekoso mati dengan visi tempur anda. Konon kekuatannya akan berlipat ganda.

Saya percaya.

MENTAL NGARTIS
Berfikir karena motif senggama
Bekerja karena ingin dipuja
Bersemangat nge-sok bisa
Bertanya kapan dokumentasi tentangnya bisa diupload sebanyak banyaknya
Bangga dengan sanjungan teman facebooknya
Ciri kata; “Lagi ini nich...”

MENTAL UKM
Berfikir karena merasa senior
Jarang bekerja banyak mencela
Bersemangat menggurui/mendewasai
Bertanya; “kapan kamu bertanya padaku hai junior?” selebihnya malu bertanya karena gengsi
Bangga dengan status dan relasinya (konon)
Ciri kata; “O” (dengan intonasi tinggi dan mimik muka yang anda tahu sendiri)

MENTAL JURAGAN
Malas berfikir
Malas bekerja karena manja
Bersemangat mengeluh
Sedikit bertanya banyak memerintah
Bangga menceritakan dunia nongkrongnya dan sejarah babysitternya
Ciri kata; “Hoi”

MENTAL BAJA
Berfikir karena ingin mengerti
Bekerja karena ingin bisa
Bersemangat dari proses awal sampai akhir
Bertanya kapan dirinya bisa mencapai keinginannya, hasratnya, cita-citanya
Bangga dengan kerja kerasnya
Ciri kata; “Bagaimana supaya…”

MENTAL ?
Malas berfikir
Bekerja karena tidak ada kegiatan
Tidak ada semangat
Tidak bertanya-tanya
Bangga
Ciri kata; “Z Z Z Z Z Z Z”

Terakhir, ketika sudah memakai baju zirah, naik kuda dan mengacungkan pedang, semoga partner Anda bertanya; "dimana benteng yang harus kita hancurkan dan kita minum darahnya"?

Sayang...

Pertanyaan yang lebih sering terdengar adalah; "dimana catwalknya?"