
Mulanya ini hanya kekesalan susahnya magang, kekesalan dengan materi statis kampus, kekesalan bodohnya berurusan dengan IPK, kekesalan menjadi mahasiswa tak patuh absensi, tapi di balik itu adalah kesenangan melakukan masturbasi dengan sesuatu bernama: “iklan!”
Tak ingin cukup bersertifikat dan undangan manten berlabel sarjana, apalagi menunggu panggilan magang yang tak kunjung tiba. Darah muda membuat kita ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang!
Cerita dimulai
Seminggu sekali kita mencoba berkumpul. Membawa buku, majalah, buku sisa produksi iklan biro beneran pemberian almarhumah Anggeng dan membahasnya di kedai kopi dekat perempatan jalan tempat waria bersemangat tinggi biasa mangkal dan berusaha menjual dada palsunya (entah kenapa kadang saya merasa menjadi waria itu)
Menu kopi pahit tapi saya pilih teh
Pinasthika. Festival iklan Indonesia yang mungkin paling dicinta, ya setidaknya ia memberikan orang sedikit ruang terjangkau untuk mengenal dunia iklan yang konon sering dipindah channelnya ketika ia tiba. Kami menggarisi namanya besar-besar sebagai tujuan dari setiap berkumpul. Tak peduli beberapa orang bilang Pinasthika tak seberapa levelnya, bagi kami ia tetap istimewa, mengajarkan kemandirian, sesuatu yang harus kami pelajari dalam proses kami dan bukan cuma berlindung pada berbagai kemudahan yang diberikan institusi tempat kuliah atau bekerja.
Tak ingin cukup bersertifikat dan undangan manten berlabel sarjana, apalagi menunggu panggilan magang yang tak kunjung tiba. Darah muda membuat kita ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang!
Cerita dimulai
Seminggu sekali kita mencoba berkumpul. Membawa buku, majalah, buku sisa produksi iklan biro beneran pemberian almarhumah Anggeng dan membahasnya di kedai kopi dekat perempatan jalan tempat waria bersemangat tinggi biasa mangkal dan berusaha menjual dada palsunya (entah kenapa kadang saya merasa menjadi waria itu)
Menu kopi pahit tapi saya pilih teh
Pinasthika. Festival iklan Indonesia yang mungkin paling dicinta, ya setidaknya ia memberikan orang sedikit ruang terjangkau untuk mengenal dunia iklan yang konon sering dipindah channelnya ketika ia tiba. Kami menggarisi namanya besar-besar sebagai tujuan dari setiap berkumpul. Tak peduli beberapa orang bilang Pinasthika tak seberapa levelnya, bagi kami ia tetap istimewa, mengajarkan kemandirian, sesuatu yang harus kami pelajari dalam proses kami dan bukan cuma berlindung pada berbagai kemudahan yang diberikan institusi tempat kuliah atau bekerja.
Brief kami sederhana (Jogja brief); kita menggeletakkan uang seribu di meja kemudian mulai bertanya uang seribu tadi akan jadi karya apa? Dan itulah yang kami lakukan di meja warung kopi tersebut.
Dua bulan sebelum hari H, kami bergerak berinisiatif, ber-scam ria. Menulis daftar perusahaan-perusahaan yang kiranya sesuai dengan idenya, mencari alamat-alamat LSM-LSM sampai dikira intel. Berusaha bertemu langsung dengan pimpinannya, ada yang meminta proposal, ada yang menceramahi konsepnya karena dianggap salah mendefinisikan gender, bahkan ada yang meminta presentasi. Tidak semua disetujui.
Waktu itu rasanya susah sekali meskipun sekedar menumpang nama. Hari-hari seperti dihabiskan mencari ijin saja (beberapa tetap berusaha kami jual), belum lagi dengan sikap beberapa teman yang seringnya kepanasan menjadi merasa tidak yakin (seperti biasa) dengan apa yang kami lakukan dan terpaksa harus disemangati berkali-kali. Bahkan di eksekusi terakhir tinggal beberapa saja yang datang. “Pasti ada hasilnya” keyakinan saya waktu itu seperti itu, sambil terus menggergaji lemari pribadi untuk iklan batik.
Hari dan jam terakhir pengumpulan akhirnya 5 entry iklan media non konvensional berhasil didaftarkan terburu-buru. Kami memilih untuk fokus pada kategori ini karena tidak dibutuhkan publikasi di media massa yang akan memakan pendanaan lebih besar (lha buat patungan biaya produksi dan pendaftaran aja masih ngos-ngosan disamping malas berurusan dengan kampus). Dalam pikiran saat itu kategori media iklan non konvensional hanya memerlukan dokumentasi publikasi di tempat sehingga pengumpulan entry tidak menyalahi aturan festival.
Beberapa konsep iklan TVC, cetak dan radio kami simpan kembali.
Malam penganugerahan 8 Agustus 2009. Ini adalah taruhan untuk masuk ke dalam dunia iklan atau melupakannya dan menjadi pengusaha tambal ban seluruh Indonesia. Rasanya bergemuruh dada ini ketika pengumuman memasuki kategori iklan media nonkonvensional meskipun sebelumnya dari hasil pengumuman finalis, dengan 4 karya yang masuk kami tahu akan mendapat medal.
Dan inilah saatnya tulisan pembawa acara itu itu berubah menjadi suara :
Dari 5 entry yang didaftarkan, kami mendapat 5 medal. Saya segera menghubungi orang tua dan menjelaskan kenapa lulus lama. Janji saya akan memberikan kesuksesan dua kali lebih besar dibanding anak lain yang lulus kuliahnya dua kali lebih cepat sedikit terlihat menurut versi sepihak.
Malam itu serasa mabuk kepayang, merayakannya di tempat termewah; “angkringan” mabuk es teh. Sambil lesehan seluruh piala ditaruh berjajar di atas tikar di pinggir jalan, setiap orang yang lewat pasti akan mengira kami menang pertandingan sepak bola atau lomba lari. Kami benar-benar sombong malam itu. Wes ben.
Menjelang pagi kami jadikan wallpaper komputer foto almarhum yang sudah memberikan nasehat “jika kamu membenci sesuatu, berusaha datang masuk ke sarangnya dan perbaiki dia dengan apa yang kamu yakini”. Piala-piala itu kami pajang tepat di depannya. Saya tahu dia di agency semesta abadi sana pasti bangga.
Citra Pariwara 2009.
Malam itu kembali berkumpul, memutuskan apakah ikut atau tidak dalam festival ini. Kami yakin dengan entry yang kami miliki, kesempatan mendapatkan medal itu ada. Tapi malam itu, sebagian dari kami sudah merasa tidak nyaman. Cerita yang beredar sebagian sudah menjadi takabur tidak lebih dari sehari, sebagian masih bisa memahami untuk apa tujuan semula, sebagian pasif seperti biasa.
Malam dengan suguhan mie rebus ayam bawang
Digaris bawahi kalimat; “Cukup di sini saja tak usah ke Citra Pariwara”. Lebih baik malam itu mundur selangkah untuk lompatan yang lebih jauh, berusaha menjadi kuat atau minimal memberi kesempatan memperbaiki sesuatu menjadi makin baik dengan teguran yang berbeda. Jika mengingat wejangan James Corbett "To become a champion, fight one more round" maka ronde selanjutnya adalah melawan attitude diri kami terlebih dahulu. Citra Pariwara dan yang lainnya bisa menunggu disaat yang tepat.
Tapi kami masih bahagia dan bangga dengan yang kami lakukan
Kebanggaan seumur hidup yang rasanya tak berlebihan kami sematkan
Karena melakukannya dengan tangan kami sendiri
Maturnuwun Gusti
Maturnuwun.
Saya suka skenario yang ini.
Dua bulan sebelum hari H, kami bergerak berinisiatif, ber-scam ria. Menulis daftar perusahaan-perusahaan yang kiranya sesuai dengan idenya, mencari alamat-alamat LSM-LSM sampai dikira intel. Berusaha bertemu langsung dengan pimpinannya, ada yang meminta proposal, ada yang menceramahi konsepnya karena dianggap salah mendefinisikan gender, bahkan ada yang meminta presentasi. Tidak semua disetujui.
Waktu itu rasanya susah sekali meskipun sekedar menumpang nama. Hari-hari seperti dihabiskan mencari ijin saja (beberapa tetap berusaha kami jual), belum lagi dengan sikap beberapa teman yang seringnya kepanasan menjadi merasa tidak yakin (seperti biasa) dengan apa yang kami lakukan dan terpaksa harus disemangati berkali-kali. Bahkan di eksekusi terakhir tinggal beberapa saja yang datang. “Pasti ada hasilnya” keyakinan saya waktu itu seperti itu, sambil terus menggergaji lemari pribadi untuk iklan batik.
Hari dan jam terakhir pengumpulan akhirnya 5 entry iklan media non konvensional berhasil didaftarkan terburu-buru. Kami memilih untuk fokus pada kategori ini karena tidak dibutuhkan publikasi di media massa yang akan memakan pendanaan lebih besar (lha buat patungan biaya produksi dan pendaftaran aja masih ngos-ngosan disamping malas berurusan dengan kampus). Dalam pikiran saat itu kategori media iklan non konvensional hanya memerlukan dokumentasi publikasi di tempat sehingga pengumpulan entry tidak menyalahi aturan festival.
Beberapa konsep iklan TVC, cetak dan radio kami simpan kembali.
Malam penganugerahan 8 Agustus 2009. Ini adalah taruhan untuk masuk ke dalam dunia iklan atau melupakannya dan menjadi pengusaha tambal ban seluruh Indonesia. Rasanya bergemuruh dada ini ketika pengumuman memasuki kategori iklan media nonkonvensional meskipun sebelumnya dari hasil pengumuman finalis, dengan 4 karya yang masuk kami tahu akan mendapat medal.
Dan inilah saatnya tulisan pembawa acara itu itu berubah menjadi suara :
“HW&GM Indonesia - Kaos Keris - SILVER”
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - GOLD”
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Cobalah Batik - GOLD”
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - Best of Unconventional Media, GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - AGENCY OF THE YEAR 2009"
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - GOLD”
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Cobalah Batik - GOLD”
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - Best of Unconventional Media, GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - AGENCY OF THE YEAR 2009"
plok plok plok berat rasanya kaki ini ke panggung untuk ukuran gerombolan mahasiswa
Ahh sampai sekarang gemuruh tepuk tangan itu masih terasa di kupingDari 5 entry yang didaftarkan, kami mendapat 5 medal. Saya segera menghubungi orang tua dan menjelaskan kenapa lulus lama. Janji saya akan memberikan kesuksesan dua kali lebih besar dibanding anak lain yang lulus kuliahnya dua kali lebih cepat sedikit terlihat menurut versi sepihak.
Malam itu serasa mabuk kepayang, merayakannya di tempat termewah; “angkringan” mabuk es teh. Sambil lesehan seluruh piala ditaruh berjajar di atas tikar di pinggir jalan, setiap orang yang lewat pasti akan mengira kami menang pertandingan sepak bola atau lomba lari. Kami benar-benar sombong malam itu. Wes ben.
Menjelang pagi kami jadikan wallpaper komputer foto almarhum yang sudah memberikan nasehat “jika kamu membenci sesuatu, berusaha datang masuk ke sarangnya dan perbaiki dia dengan apa yang kamu yakini”. Piala-piala itu kami pajang tepat di depannya. Saya tahu dia di agency semesta abadi sana pasti bangga.
Citra Pariwara 2009.
Malam itu kembali berkumpul, memutuskan apakah ikut atau tidak dalam festival ini. Kami yakin dengan entry yang kami miliki, kesempatan mendapatkan medal itu ada. Tapi malam itu, sebagian dari kami sudah merasa tidak nyaman. Cerita yang beredar sebagian sudah menjadi takabur tidak lebih dari sehari, sebagian masih bisa memahami untuk apa tujuan semula, sebagian pasif seperti biasa.
Malam dengan suguhan mie rebus ayam bawang
Digaris bawahi kalimat; “Cukup di sini saja tak usah ke Citra Pariwara”. Lebih baik malam itu mundur selangkah untuk lompatan yang lebih jauh, berusaha menjadi kuat atau minimal memberi kesempatan memperbaiki sesuatu menjadi makin baik dengan teguran yang berbeda. Jika mengingat wejangan James Corbett "To become a champion, fight one more round" maka ronde selanjutnya adalah melawan attitude diri kami terlebih dahulu. Citra Pariwara dan yang lainnya bisa menunggu disaat yang tepat.
Tapi kami masih bahagia dan bangga dengan yang kami lakukan
Kebanggaan seumur hidup yang rasanya tak berlebihan kami sematkan
Karena melakukannya dengan tangan kami sendiri
Maturnuwun Gusti
Maturnuwun.
Saya suka skenario yang ini.
0 komentar:
Posting Komentar