Minggu, 19 Oktober 2008

PINASTHIKA


Setiap tahun memperhatikan

Pinasthika selalu berpesta makin megah

Di hotel - hotel mewah

Seperti Pesta pora ala priyayi jaman Belanda

Berharap layak sejajar genduren tetangga.

Alah-alah.


Kenapa tidak membuatnya seperti sekaten saja

Dipajang di lapangan bola

Atau alun-alun kota.

Dipertontonkan seperti komedi putar

Atau roda-roda gila.


Anggap saja memberikan edukasi iklan

Pada masyarakat yang selalu dianggap bodoh.

Belum cerdas menilai iklan cerdas

Belum terdidik menilai iklan pemenang penghargaan

Sehingga menjadi alasan biro iklan

Tidak mengeluarkan iklan yang konon kreatif.


Senin, 13 Oktober 2008

MENTAL ILLNESS


Dalam sebuah wawancara dengan mantan penderita kejiwaan, sedikit terungkap bahwa dalam pandangan mereka benda-benda yang bagi orang normal dianggap indah tidaklah begitu sudranya. Sebaliknya benda-benda yang kita anggap menjijikkan, bagi mereka adalah keindahan. Itulah sebab mereka gemar telanjang mengorek-orek tempat sampah dan gemar bersolek dengan plastik. Ini benar-benar gaya hidup dan filosofi sufi kebendaan tingkat tinggi.

Berbicara tentang mental illness yang istimewa, ingatan saya kembali pada masa kecil di desa kelahiran di daerah Pacitan Timur. Waktu itu ada tiga penderita mental illness yang melegenda;
1.Sulasto aka Silas
2.Jeboh si pedandan heboh
3.NN
Dan suatu kehormatan bisa menuliskan profil ketiganya disini.

Sulasto aka Silas
Istimewa, terkenal. Kegemarannya numpang dibak belakang truk dan membantu menaik turunkan barang-barang para pedagang pasar ( sistim pasar di daerah sana masih memakai pasaran, Pahing di pasar Desa A, Kliwon di desa B dan seterusnya ).

Silas sering tidur dirumah kami. Ini yang membuat saya sedikit lebih mengenalnya. Mengenal Silas itu berarti tahu kapan waktu yang tepat untuk membiarkannya melamun sendiri atau pergi. Mengenal waktu hari-hari kapan dia biasanya kumat dan memaki-maki tidak karuan. Ya kumatnya hanya sebatas berteriak sendiri dan bahasa-bahasa yang tidak nyambung, tidak ada kumat ngamuk secara fisik misalnya merusak barang seperti yang biasa orang normal lakukan. Saya sendiri merasa tersanjung dengan makiannya ketika dia kumat pada ibu saya yang dalam suatu kejadian memarahi si little Hitler ini. Ok Silas Schimhuber karena perjuanganmu, kunaikkan jabatanmu menjadi komandan divisi Frinz Eugen Waffen SS.

Mengenai hidupnya yang dramatis, Silas mempunyai kisah petakanya sendiri dan bagi orang kebanyakan kisahnya sudah bukan rahasia yang patut ditutupi;

“Sulasto dulu adalah seorang santri tampan di daerah sekitar Pacitan. Kisah cintanya yang konon tidak direstui orang tua pihak wanita membuatnya gelap mata. Wanitanya dibawa kabur, versi lain mengatakan wanitanya hamil. Keluarga pihak wanita murka, baju santri Sulasto dilempar kelaut kidul dengan tambahan guna-guna. Sulasto jadi gila. Sulasto si Silas”

Dari rumor tersebut, suatu hari ( kalau tidak salah kira-kira ketika saya masih smp) ketika kami berdua sedang gegeni di pawon ( menghangatkan diri di perapian dapur ) saya menanyakan kebenaran kisahnya itu, ya tapi dengan sedikit kecemasan pertanyaan itu bakal berakibat kumatnya Silas dan saya dipanggang habis-habisan dalam makiannya. Tapi kenyataannya tidak ada jawaban serius, dia menunduk dan hanya bilang;

“Laut, laut laut”
“Wedok, wedok,wedok”

Dan saya berkesimpulan kisah itu memang benar.

Silas mempunyai kegemaran menulis disembarang tempat kapanpun dia mau. Banyak buku-buku, majalah, komik maupun buku sekolah saya yang jadi sasaran kejeniusan dia. Semuanya ditulisi bahasa arab, cuma nama dia yang dia tulis dengan dalam abjad bahasa Indonesia; Sulasto. Anehnya kesemuanya mempunyai struktur kemiripan; bahasa arab, bahasa arab, bahasa arab, Sulasto. Seperti sedang berimajinasi dalam dunianya dia adalah seorang pengarang buku besar sold out, Silas tidak lupa untuk memberitahukan publik bahwa dia punya gaya penulisan tersendiri dan wajib menandatanganinya.
Kini saya baru menyadari Silas memang istimewa.

Saya sekarang sudah tidak tahu kabar si Silas Barret ini. Tapi toh kalapun dia baik-baik di dunia kejam ini, saya yakin dia masih menikmati tunggangan di belakang bak truk dan masih lantang berteriak keras-keras; “Still Crazy!!!”

Jeboh
Jeboh si pedandan heboh. Kalau Silas selintas mirip Syd Barrett, Jeboh adalah hippiesnya. Lucu kalo kedua orang itu bertemu. Sering diledek anak-anak kampung sebagai pasangan serasi. Dan tampaknya mereka berdua menikmatinya. Saya sendiri tidak terlalu tahu dengan latar belakang Marlyn Monroe kampung kami itu. Yang jelas terlintas dalam ingatan hanya gaya sanggul dan dandanannya yang tidak mungkin menjadi trend untuk 1000 tahun kedepan. Beritanya Jeboh si pedandan heboh sekarang sudah meninggal, menjadi pesinden cantik di akherat.


NN
Yang terakhir ini saya tidak terlalu kenal dan namanya lupa. Sebatas mengenalnya ketika pulang sekolah dulu dan sering berpapasan dengannya. Visualnya bersih, sering memakai topi. Sedikit lebih tua dari Silas tapi lebih muda dari Jeboh. Sering sekali memberi nasehat-nasehat aneh. Dulu sering dimintai anak-anak untuk meramal. Ramalannya tidak ada yang tepat.

Si NN ini sudah tidak terlacak juga. Tidak buat Friendster.

Gila Gila Gila.
Gila hanya berbeda karena kita terlanjur mendefisikan waras sedikit lebih cepat.



Sabtu, 11 Oktober 2008

SIKLUS SATRIA BERGITAR



Ini sekedar rangkuman saja dan konon hasil wawancara dengan para pakar (gambar diatas adalah penulis dengan nara sumber) tapi kebanyakan memang seperti ini;

FASE 1 ( FASE AKU SEPERTINYA AKAN DIPUJA )
Ini disebut fase dasar atau saya sebut juga sebagai fase keculek pandom klambi. Pada fase ini biasanya pemain gitar melihat kualitas bermain dari nilai keren atau tidaknya penampilan luar dan apa yang menjadi perbicangan teman teman gaulnya. Kemungkinan bermotif mendapat jodoh pada musim kawin pula.
Gitaris-gitaris panutan dalam fase ini adalah Slash dengan gaya topinya, Cobain dengan gaya coolnya, Jimi Hendrix karena banyak dipakai sablonan kaos, Joe Green Day dengan gaya mata lebam habis kondangan, Yngwie dengan tendangan kudanya dll…pokoknya semua kehebatan adalah tentang citra image lingkungan setempat dan tentu saja trend trend trend dan trend.

FASE 2 ( FASE AKU AKAN BISA MEMAINKAN TYPING ALA SIAPA )
Fase silep mate belagak sombong. Naik dalam fase dua berarti melihat dari segi apa yang bisa dilakukan dan yang tidak. Semua distandarkan dengan berbagai skill tangan, kecepatan, dan berbagai hal yang akan membuatmu seperti pemain robot terprogram, kaku dan penuh buku teori.
Gitaris disebut hebat jika memainkan empat neck gitar sekaligus ( Michael Angelo ), bermain dengan mata tertutup ( Vai ), bermain dengan gigi ( Gilbert ) dan banyak tingkah shredder lainnya yang membuat kita seakan melihat parade sirkus daripada mendengarkan musik.
Pada fase ini amatiran akan habis habisan meniru jagoannya bak kakek buyut mereka sendiri, menjadikan mereka imitasi dan tidak lebih sekedar motivasi. Gitaris-gitaris pada fase ini biasanya kesulitan untuk melepaskan diri untuk memperoleh orisinalitas permainan karena tanpa sadar sudah berubah menjadi badut penjiplak.
Tokoh Biduan : Steve Vai, Satriani, Paul Gilbert, Yngwie, Petrucci Timmon, dll. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan para gitaris diatas karena mereka sejatinya adalah gitaris hebat meskipun bukan yag terhebat. Yang menyebalkan biasanya adalah pola pikir pengagumnya.

FASE 3 ( FASE SEPERTINYA DIA ORISINIL )
Fase ketiga adalah fase kedewasaan. Tidak banyak yang bisa sampai pada fase ini karena umumnya pemain gitar tejebak sampai pada fase kedua saja. Pada fase ketiga kita akan melihat sebuah permainan dari total keseluruhan pengetahuan musik secara teknikal patent. Disini orisinalitas sangat diperhitungkan untuk mendapatkan tokoh jagoan yang layak mendapatkan predikat the real guitar hero.
Ada kemungkinan jagoan idaman kita adalah para pendekar gitar pada fase pertama tapi dengan cara pandang yang sudah berbeda. Jika kita melihat pada fase pertama Slash adalah gaya topinya, pada fase ketiga kita melihat Slash dengan lick-lick yang menawan.
Disinipun kita tidak bisa mendebat Vai lebih bagus daripada Clapton dengan anggapan Clapton tidak bisa bermain typing seperti Vai…jika kamu berfikir seperti itu…hey man ini fase yang sudah berbeda, hebat bukan berarti yang tercepat atau siapa yang memainkan gitar dengan jari jempol kaki… tolong kembalilah ke fase dua saja dengan para amatir
Gitaris panutan dalam fase ini semisal Hendrix, BB King, Cray, Eric Clapton, Page, Fripp, Jack White, SRV, George Harrison, Slash, Hendrix, Angus dll

FASE 4 ( FASE PERSETAN DENGAN SEMUA )
Ketika kita muak dengan pengkotakan musik apalagi disertai dengan kebencian terhadap dunia, kita akan sampai pada penghujung esensial sebuah pemikiran dasyat ini.
Kenapa musik harus selalu melewati tatanan scale blues, jazz etc? Kenapa untuk membuat musik harus selalu dengan ketakutan bisa tidaknya saya memainkan alat musik?
Persetan semuanya.
Biasanya ketika kita sampai pada fase ini, kita sudah tidak menganggap diri kita melulu gitaris tetapi merucut pada seorang komposer yang berusaha mencari warna musik tidak lazim. Sebenarnya hasilnya pun tidak akan lebih membuat nyaman kuping dan bersifat simbolisasi tapi dibalik kesemuanya saya rasa pemikiran seperti itu jauh lebih susah daripada berkutat dengan permainan fingering, typing dan lempar lembing halah
Musik musik konseptual semacam Contortions, Suicide Lydia Lunch Teenage Jesus & The Jerks, Arto Lindsay D.N.A dll

FASE 5 ( HIGHWAY TO HELL )
Pada fase kesadaran total ini kamu akan melihat teman PNS kamu yang notabene melanggar kodrat kejantanan dengan mengkoleksi keseluruhan poster dan CD Ada band lebih mampu membeli gitar PRS berbalut semburan naga daripada kamu yang masih berteriak dan pura-pura hidup pada tahun 60-70an, memimpikan satu konser dengan Marc Boland. Pada fase ini kamu benar-benar akan dihadapkan pada dua pilihan tidak adil. Tapi ini sejujurnya ini bukan alasan untuk berhenti berteriak “long live brutal roll” atau bahkan mengecilkan ampli volume 11 Spinal Tap kamu….saya kasih rahasia; the real music never die man, dia hanya sesaat tersedak muntahan pil tidur.