Kamis, 22 Oktober 2009

Philosophy


My majoring in philosophy was closely related to the pugnacity of my childhood. I often ask myself these questions :

What comes after victory?

Why do people value victory so much?

What is “glory”

What kind of “victory” is glorious?

When my tutor assisted me in choosing my courses, he advised me to take up philosophy because of my inquisitiveness. He said;

“Philosophy will tell you what man lives for.”

-Bruce Lee-

MEMANAGE KEBENCIAN ( DO YOU HAVE A BRAND ? )


Obrolan di ruang kantin membawa kami membicarakan setiap human's brand yang lewat dalam setiap pandangan. Gaul, moderat, garang, nyentrik, gila sanjungan, bahkan kebencian. Kebencian? Kata itu dalam disematkan dalam branding personal saya.

“Dalam matamu tidak ada kebencian” seorang teman berkomentar

Pernyataan itu malah membuat saya heran, selama ini saya tidak pernah merasa membenci sesuatu. Kata itu disematkan karena saya terlalu mencintai sesuatu. Subyektifitas definisi yang telah merubahnya. Dalam pandangan umum, ketika seseorang sedikit memaki, orang akan cenderung hanya sifat emosional dari makiannya, bukan alasan dia memaki yang mungkin berhubungan dengan rasa benci kecewa (kecintaan akan sesuatu) bukan sekedar benci emosional (yang tidak menggerakkan). Dua hal tersebut berbeda.

Kebencian mungkin akan selalu menjadi bagian dari sifat yang dimusuhi. Kebencian yang disimbolkan dengan mata tajam menusuk dengan asap hitam pekat datang diiringi suara guntur dan datang segerombolan burung gagak berputar-putar diatasnya diiringi dengan ledakan simbol tengkorak akan selalu bervisual lebih familiar, berupa amarah yang bersifat jasad layaknya sebatas menendang sebuah kursi dan mendengus seperti kerbau. Pertanyaannya kita akan dapat apa dengan kebencian varian itu? (Dulu sih memang seperti itu he2 dan nyatanya memang saya tidak dapat apa-apa)

Tetapi kebencian bukan melulu energi negatif yang destruktif. Kesadaran emosional untuk merubahnya menjadi suatu kekuatan maha dahsyat akan membuat kita berkeinginan merubah sesuatu yang kita benci, menghasilkan energi terbesar dari inti hati manusia itu sendiri yaitu filosofi. Pola pikir dalam memaknai perjalanan hidup untuk tidak mensia-siakan satu peluru bernyawa yang diberikan oleh Tuhan.

Seperti kata pepatah bijak :

Kebencian di mata adalah amarah.

Kebencian di hati adalah gairah.

Cinta di mulut adalah kentut.

Cinta di hati adalah meditasi.

Sekarang saya lebih memilih benci atas cinta (kecintaan akan sesuatu/cinta yang meluap-luap).

Benci akan kebodohan yang berujung mencintai pengetahuan, akan menggerakkan kita untuk terus mencintai belajar sampai liang kubur. Menyematkan filosofi tersebut (yang membuat kita bertanya, menganalisa dan mempraktekkan) membuat kita terus bersemangat memanjat tebing vertikal yang kata orang lain sulit. Jika titik-titik point targetnya sudah terjangkau, kedepannya kita akan membuat sendiri calon point target yang akan di jangkau berikutnya dan berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya keatas untuk terjun bebas sebagai endingnya. Kekuatan energi benci karena cinta yang meluap-luap tersebut bagi saya pribadi jauh lebih membara daripada cuma sekedar menyematkan kata cinta buta atau bahkan benci buta. Benci itu cuma cinta yang diberi warna cat hitam. Benci itu humanis. 1 benci di hati jauh lebih menggerakkan daripada 1000 cinta di mulut. Keyakinan spritual saya seperti itu. Karena dalam beberapa adegan skenario hidup, antara benci dan cinta sudah tidak ada lagi batasnya.

Tersebutlah seorang wartawan Vietnam bernama Mai Nam yang dalam segala keterbatasan perlengkapan jurnalistik harus berada dalam garis terdepan pertempuran untuk mengambil gambar perang. Siang ia harus ikut perang, malam ia berada dalam lorong bawah tanah, bertahan dari bombardir pesawat tempur para tentara amerika. Dalam terowongan yang juga dihuni para tentara vietcong yang menjaga penduduk sipil baik tua maupun bayi tersebut, mereka bernyanyi dan menari untuk menjaga mental mereka tetap kuat. Sang wartawan ingin mengabadikan moment tersebut dan menunjukkan kepada dunia mereka tidak gentar terhadap amerika. Permasalahannya cahaya didalam ruang tersebut sangat minim sedangkan kameranya ber-ASA 100 dan tak ada lampu blitz. Tapi ia melihat didalam terowongan tersebut banyak terdapat peluru. Diambilnya beberapa, kemudian diambil mesiunya dan menuangkannya kedalam kertas. Oleh mai Nam, para pejuang tersebut disuruhnya berpose. Dengan membakar mesiu dari peluru yang membuat ruangan itu terang seperti nyala bubuk lampu jadilah foto hebat tersebut.
Mai Nam memakai peluru untuk mengabadikan kehidupan, bukan menghancurkannya. Peluru simbol kebencian tersebut, saat itu juga telah berubah menjadi sesuatu yang mampu mengabadikan moment cinta.


Senin, 28 September 2009

Dasar.


Dulu rasanya gampang sekali melewatinya
Berjalan berkilo-kilo melewati perbukitan
Berangkat jam 6 pagi pulang jam 1 siang
Selama 9 tahun bersekolah dasar dan menengah

Kini melewati satu blok saja rasanya sudah mengeluh
Tinggal duduk di bis saja mengeluh
Antre kereta api 15 menit saja mengeluh
Apa karena sudah mahasiswa?

Malunya kalo nanti temen sekampung bilang:

"Dasar orang kota"

Sialan itu makianku dulu.

Minggu, 20 September 2009

Timental


Membentuk tim yang hebat tidak hanya berdasarkan unsur kemampuan per-individu semata. Beberapa petuah menganjurkan mempertimbangkan bagaimana karakter mental dan kemampuan bersosialisasinya dengan anggota tim yang lain untuk memperkuat tujuan yang dibuat bersama.
Rumusnya sederhana: kemampuan bisa terus naik dengan mental yang baik, sebaliknya kemampuan yang ada akan terus menurun dengan mental yang buruk.
Beberapa tipe mental di bawah ini pasti akan anda temui dalam sebuah tim . Yang terbaik tentu saja mental baja dan yang terburuk adalah mental UKM dan juragan.
Ketika anda berhasil menganalisa setiap kemampuan mental yang ada dalam kerja sebelumnya, kedepannya bersiaplah untuk benar-benar memilih partner sehati yang bersedia ngarso rekoso mati dengan visi tempur anda. Konon kekuatannya akan berlipat ganda.

Saya percaya.

MENTAL NGARTIS
Berfikir karena motif wanita
Bekerja karena ingin dipuja
Bersemangat nge-sok bisa
Bertanya kapan dokumentasi grammynya bisa diupload sebanyak banyaknya
Bangga dengan sanjungan teman facebooknya
Ciri kata; “Lagi ini nich...”

MENTAL UKM
Berfikir karena merasa senior
Jarang bekerja banyak mencela
Bersemangat menggurui/mendewasai
Bertanya; “kapan kamu bertanya padaku hai junior?” selebihnya malu bertanya karena gengsi
Bangga dengan status dan relasinya (konon)
Ciri kata; “O” (dengan intonasi tinggi dan mimik muka yang anda tahu sendiri)

MENTAL JURAGAN
Malas berfikir
Malas bekerja karena manja
Bersemangat mengeluh
Sedikit bertanya banyak memerintah
Bangga menceritakan dunia nongkrongnya dan sejarah babysitternya
Ciri kata; “Hoi”

MENTAL BAJA
Berfikir karena ingin mengerti
Bekerja karena ingin bisa
Bersemangat dari proses awal sampai akhir
Bertanya kapan dirinya bisa mencapai keinginannya, hasratnya, cita-citanya
Bangga dengan kerja kerasnya
Ciri kata; “Bagaimana supaya…”

MENTAL ?
Malas berfikir
Bekerja karena tidak ada kegiatan
Tidak ada semangat
Tidak bertanya-tanya
Bangga
Ciri kata; “Z Z Z Z Z Z Z”

Dan bagi saya pribadi, pasti suatu saat secara tidak sadar akan memakai tipikal mental di atas satu persatu.
Jika itupun terjadi, semoga tulisan ini bisa membuat saya menampar diri sendiri dan kembali ke garis merah untuk kembali meluap-luap.

Selasa, 15 September 2009

VS


Menemuinya kedua tangan saya silangkan

Emosional mataku menatapnya

Dia bicara; “hentikan tatapanmu, apa yang kamu mau?”

“Melawanmu” jawabku

“Sampai batasan mana kamu bisa bertahan, apa kemampuanmu?”

“Nanti aku akan tahu, tapi sekarang batasan itu tidak ada”

“Aku tahu kelemahanmu” kata dia

“Aku tahu kekuatanmu” balasku

“Kamu kira kamu sanggup melawanku?”

“Sanggup. Aku mempush diriku sampai batas tercapainya”

“Apa senjatamu kamu punya keyakinan seperti itu?”

“Penasaranku”

“Siapa gurumu?'

"Pertanyaanku”

“Apa yang sebenernya kamu cari dari pertempuran ini”

“Kekuatan baru”

“Apa gunanya?”

“Menjadi lebih kuat”

“Dalam hal apa?”

“Segalanya”

“Untuk apa?”

“Untuk immortal, untuk semua ini bangsat...Ciattttttt”

PYARRRR

Dan kaca itupun pecah berantakan.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Yang baik kata Bu Yah tentang iklan


Jadi orang iklan yang baik kata Bu Yah "bacalah buku psikologi atau antropologi, bukan buku iklan."

Jadi orang iklan yang baik kata Bu Yah "dengarkanlah suara becek pasar atau nyanyian metromini, bukan obrolan pakar iklan."

Jadi orang iklan yang baik kata Bu Yah "ciumlah pipinya dan pegangan tangan bersama menuju ke suatu tempat, bukan mencengkeram kerah bajunya dan memaksa pergi ke tempat itu."

Jadi orang iklan yang baik kata Bu Yah "selama masih bisa kesurupan jathilan, jangan memelihara suatu budaya karena alasan warisan leluhur, peliharalah karena derajadnya tinggi melebihi budaya negara lain. Letakkan dalam setiap lembar kerjamu maka bersinarlah dia."

Jadi orang iklan kata Bu Yah "sesekali memanggil arwah Joseph Gobbels tidak apa-apa selama dalam casing batok kelapa jailangkung. Joseph Goebbels…. Joseph Goebbels disini ada pesta, datang minta jemput sama SS, pulang kami suruh antar Satpol PP."

Jadi orang iklan yang baik kata Bu Yah "lihat audiens sebagai diri kita sendiri, bukan orang lain. Apa yang bisa membuatmu menangis mungkin punya efek yang sama. Ketika kita memposisikan diri seperti itu, ia akan datang laksana ribuan meteor yang membuatmu merinding. Sekarang baca Qur’an surat Al Kahfi ayat 109 artikan!!! “Sekiranya samudra menjadi tinta untuk mencatat kalimat Tuhanku, pasti samudera akan kering sebelum habis kalimat Tuhanku dicatat, sekalipun kita datangkan sebanyak itu lagi.”…ini apa artinya Bu Yah? Ide itu banyak le!!!"

Jadi orang iklan kata Bu Yah "bicaralah baik-baik, jika tidak direspon rampoklah baik baik dan kabur secepatnya karena dalam tahapan tersebut kamu sudah menjadi perampok handal dan aku tidak sudi menyebut kamu sebagai anak didik ngajiku lagi. Get out from this masjid!!!"

Tribute to Bu Yah berpulang 20 Agustus 2009 -RIP-

Sendiko dawuh Bu Yah, Dhani Hargo anak didik ngajimu yang dulu selalu njenengan kasih siksaan hafalan tambahan satu ayat siap kungkum di dunia iklan yang konon glamour dan mengkilap itu. Doakan selamat.

Rabu, 08 Juli 2009

While My Guitar Gently Weeps



I look at you all see the love there that's sleeping
While my guitar gently weeps
I look at the floor and I see it need sweeping
Still my guitar gently weeps

I don't know why nobody told you
how to unfold you love
I don't know how someone controlled you
they bought and sold you

I look at the world and I notice it's turning
While my guitar gently weeps
With every mistake we must surely be learning
Still my guitar gently weeps

I don't know how you were diverted
you were perverted too
I don't know how you were inverted
no one alerted you

I look at you all see the love there that's sleeping
While my guitar gently weeps
I look at you all
Still my guitar gently weeps

Bangun dan bernyanyi lagunya om harrison
Tidak terasa sudah 26 tahun
Berdoa sebentar.
Maturnuwun gusti
Still my guitar gently weeps

Coblosan, coblosan.
Lebih cepat lebih baik (tidur)
Lanjutkan (tidur)
Demi wong (tidur)