Selasa, 02 Februari 2010

Fight One More Round


Mulanya ini hanya kekesalan susahnya magang, kekesalan dengan materi statis kampus, kekesalan bodohnya berurusan dengan IPK, kekesalan menjadi mahasiswa tak patuh absensi, tapi dibalik itu adalah kesenangan melakukan hal yang kami nikmati dengan manusia menyebalkan bernama; “iklan”.

Tapi kita tak ingin cukup bersertifikat dan undangan manten ber-S.I.P apalagi menunggu panggilan magang yang tak kunjung tiba. Kita ingin berproses.

Cerita dimulai

Seminggu sekali kita mencoba berkumpul. Membawa buku, majalah, buku sisa produksi iklan biro beneran pemberian almarhum dan membahasnya di kedai kopi dekat perempatan tempat waria ber-passion tinggi biasa mangkal dan berusaha menjual dada palsunya (kadang saya merasa menjadi waria itu)

Menu kopi pahit tapi saya pilih teh

Pinasthika. Festival iklan Indonesia yang mungkin paling dicinta, ya setidaknya ia memberikan orang sedikit ruang terjangkau untuk mengenal dunia iklan yang konon sering dipindah channelnya ketika ia tiba. Kami menggarisi namanya besar-besar sebagai tujuan dari setiap berkumpul.

Dua bulan sebelum hari H, kami bergerak berinisiatif, berscam ria. Menulis daftar perusahaan-perusahaan yang kiranya sesuai dengan idenya, mencari alamat-alamat LSM-LSM sampai dikira intel. Berusaha bertemu langsung dengan pimpinannya, ada yang meminta proposal, ada yang menceramahi konsepnya karena dianggap salah mendefinisikan gender, bahkan ada yang meminta presentasi. Tidak semua disetujui.

Rasanya waktu itu susah sekali meskipun sekedar menumpang nama. Hari-hari seperti dihabiskan mencari ijin saja (beberapa tetap berusaha kami jual), belum lagi dengan sikap beberapa teman yang seringnya kepanasan menjadi merasa tidak yakin (seperti biasa) dengan apa yang kami lakukan dan terpaksa harus disemangati berkali-kali. Bahkan di eksekusi terakhir tinggal separuh saja yang datang. “Pasti ada hasilnya” keyakinan saya waktu itu seperti itu, sambil terus menggergaji lemari pribadi untuk iklan batik.

Hari dan jam terakhir pengumpulan akhirnya 5 entry iklan media non konvensional berhasil didaftarkan terburu-buru. Kami memilih untuk fokus pada kategori ini karena tidak dibutuhkan publikasi di media massa yang akan memakan pendanaan lebih besar (lha buat patungan biaya produksi dan pendaftaran aja masih ngos-ngosan disamping malas berurusan dengan kampus). Dalam pikiran saat itu kategori media iklan non konvensional hanya memerlukan dokumentasi publikasi di tempat sehingga pengumpulan entry tidak menyalahi aturan festival.

Beberapa konsep iklan TVC, cetak dan radio kami simpan kembali.


Malam penganugerahan 8 Agustus 2009. Ini adalah taruhan untuk masuk ke dalam dunia iklan atau melupakannya dan menjadi pengusaha tambal ban seluruh Indonesia. Rasanya bergemuruh dada ini ketika pengumuman memasuki kategori iklan media nonkonvensional meskipun sebelumnya dari hasil pengumuman finalis, dengan 4 karya yang masuk kami tahu akan mendapat medal.

Dan inilah saatnya tulisan pembawa acara itu itu berubah menjadi suara :

“HW&GM Indonesia - Kaos Keris - SILVER
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Cobalah Batik - GOLD
plok plok plok maju ke panggung
“HW&GM Indonesia - Gatotkaca, Dasamuka, Sembadra - Best of Unconventional Media, GOLD
plok plok plok maju ke panggung

“HW&GM Indonesia - AGENCY OF THE YEAR 2009"
plok plok plok huaa berat rasanya kaki ini ke panggung untuk ukuran gerombolan mahasiswa

Ahh sampai sekarang gemuruh tepuk tangan itu masih terasa di kuping

Dari 5 entry yang didaftarkan, kami mendapat 5 medal. Saya segera telpon orang tua saya dan menjelaskan kenapa lulus lama.
Janji saya akan memberikan kesuksesan dua kali lebih besar dibanding anak lain yang lulus kuliahnya dua kali lebih cepat sedikit terlihat menurut versi sepihak.

Malam itu serasa mabuk kepayang, merayakannya di tempat termewah; “angkringan” mabuk es teh. Sambil lesehan seluruh piala ditaruh berjajar di atas tikar di pinggir jalan, setiap orang yang lewat pasti akan mengira kami menang pertandingan sepak bola atau lomba lari. Kami benar-benar sombong malam itu. Wes ben.


Menjelang pagi kami jadikan wallpaper komputer foto almarhum yang sudah memberikan nasehat “jika kamu membenci sesuatu, berusaha datang masuk ke sarangnya dan perbaiki dia dengan apa yang kamu yakini”. Piala-piala itu kami pajang di depannya.

Saya tahu dia di sana pasti bangga.

Citra Pariwara 2009. Malam itu kembali berkumpul, memutuskan apakah ikut atau tidak dalam festival ini. Kami yakin dengan entry yang kami miliki, kesempatan mendapatkan medal itu ada. Tapi malam itu, sebagian dari kami sudah merasa tidak nyaman. Cerita yang beredar sebagian sudah menjadi takabur tidak lebih dari sehari, sebagian masih bisa memahami untuk apa tujuan semula, sebagian pasif seperti biasa.


Malam dengan suguhan mie rebus ayam bawang serasa hambar


Digaris bawahi kalimat; “Cukup di sini saja tak usah ke Citra Pariwara”. Lebih baik malam itu mundur selangkah untuk lompatan yang lebih jauh, berusaha menjadi kuat atau minimal memberi kesempatan memperbaiki sesuatu menjadi makin baik dengan penyampaian yang berbeda Jika mengingat wejangan James Corbett "To become a champion, fight one more round" maka ronde selanjutnya adalah melawan attitude diri kami terlebih dahulu. Citra Pariwara dan yang lainnya bisa menunggu disaat yang tepat.


Tapi kami masih bahagia dan bangga dengan yang kami lakukan.

Maturnuwun Gusti.

Maturnuwun.


Minggu, 03 Januari 2010

O.K


Saya dengar cuma perlu tiga hal untuk berhasil :
1. Cita-cita yang besar.
2. Kerja keras.
3. Keyakinan akan terwujud.

Pasti atau tidak sama sekali.

Tapi saya dengar juga :
The person who doesn't make mistakes is unlikely to make anything.

Proses. Saya siap.

Jumat, 13 November 2009

Ketika


Ketika seseorang bilang persaudaraan
Dari situlah awal kepalsuan sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang cinta
Dari situlah awal kebencian sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang ikatan
Dari situlah awal cekikan sesungguhnya dimulai

Ketika seseorang bilang karena kita
Dari situlah awal kekejaman sesungguhnya dimulai

Jangan tanya, bahkan jangan pernah sekalipun bilang.
Lakukan saja jika kau memang menyakininya.

Kamis, 22 Oktober 2009

Philosophy


My majoring in philosophy was closely related to the pugnacity of my childhood. I often ask myself these questions :

What comes after victory?

Why do people value victory so much?

What is “glory”

What kind of “victory” is glorious?

When my tutor assisted me in choosing my courses, he advised me to take up philosophy because of my inquisitiveness. He said;

“Philosophy will tell you what man lives for.”

-Bruce Lee-

Senin, 28 September 2009

Dasar.


Dulu rasanya gampang sekali melewatinya
Berjalan berkilo-kilo melewati perbukitan
Berangkat jam 6 pagi pulang jam 1 siang
Selama 9 tahun bersekolah dasar dan menengah

Kini melewati satu blok saja rasanya sudah mengeluh
Tinggal duduk di bis saja mengeluh
Antre kereta api 15 menit saja mengeluh
Apa karena sudah mahasiswa?

Malunya kalo nanti temen sekampung bilang:

"Dasar orang kota"

Sialan itu makianku dulu.

Minggu, 20 September 2009

Timental


Membentuk tim yang hebat tidak hanya berdasarkan unsur kemampuan per-individu semata. Beberapa petuah menganjurkan mempertimbangkan bagaimana karakter mental dan kemampuan bersosialisasinya dengan anggota tim yang lain untuk memperkuat tujuan yang dibuat bersama.
Rumusnya sederhana: kemampuan bisa terus naik dengan mental yang baik, sebaliknya kemampuan yang ada akan terus menurun dengan mental yang buruk.
Beberapa tipe mental di bawah ini pasti akan anda temui dalam sebuah tim . Yang terbaik tentu saja mental baja dan yang terburuk adalah mental UKM dan juragan.
Ketika anda berhasil menganalisa setiap kemampuan mental yang ada dalam kerja sebelumnya, kedepannya bersiaplah untuk benar-benar memilih partner sehati yang bersedia ngarso rekoso mati dengan visi tempur anda. Konon kekuatannya akan berlipat ganda.

Saya percaya.

MENTAL NGARTIS
Berfikir karena motif wanita
Bekerja karena ingin dipuja
Bersemangat nge-sok bisa
Bertanya kapan dokumentasi grammynya bisa diupload sebanyak banyaknya
Bangga dengan sanjungan teman facebooknya
Ciri kata; “Lagi ini nich...”

MENTAL UKM
Berfikir karena merasa senior
Jarang bekerja banyak mencela
Bersemangat menggurui/mendewasai
Bertanya; “kapan kamu bertanya padaku hai junior?” selebihnya malu bertanya karena gengsi
Bangga dengan status dan relasinya (konon)
Ciri kata; “O” (dengan intonasi tinggi dan mimik muka yang anda tahu sendiri)

MENTAL JURAGAN
Malas berfikir
Malas bekerja karena manja
Bersemangat mengeluh
Sedikit bertanya banyak memerintah
Bangga menceritakan dunia nongkrongnya dan sejarah babysitternya
Ciri kata; “Hoi”

MENTAL BAJA
Berfikir karena ingin mengerti
Bekerja karena ingin bisa
Bersemangat dari proses awal sampai akhir
Bertanya kapan dirinya bisa mencapai keinginannya, hasratnya, cita-citanya
Bangga dengan kerja kerasnya
Ciri kata; “Bagaimana supaya…”

MENTAL ?
Malas berfikir
Bekerja karena tidak ada kegiatan
Tidak ada semangat
Tidak bertanya-tanya
Bangga
Ciri kata; “Z Z Z Z Z Z Z”

Dan bagi saya pribadi, pasti suatu saat secara tidak sadar akan memakai tipikal mental di atas satu persatu.
Jika itupun terjadi, semoga tulisan ini bisa membuat saya menampar diri sendiri dan kembali ke garis merah untuk kembali meluap-luap.

Selasa, 15 September 2009

VS


Mudah sekali mengatakan "lawan" dengan mengepalkan tangan kiri di tengah kerumunan
Sulit sekali mengatakan "hati" dengan mengepalkan tangan kanan ketika dirimu sedang sendiri.

Mudah sekali melempar kursi untuk menunjukkan kemarahan
Sulit sekali membebaskan merpati untuk menunjukkan sebuah dendam.

Mudah sekali bercumbu untuk membuktikan apa yang orang bilang kasih sayang
Sulit sekali menahan nafsu untuk menunjukkan sesuatu yang tulus

Mudah sekali berorasi berkata kitalah yang paling benar
Sulit sekali sekedar berbisik kitalah yang sebenarnya salah

Mudah sekali mengatakan saya akan melakukan sesuatu
Sulit sekali diam dan melakukannya

Mudah sekali.
Sulit sekali.

Saya rasa ini medan tempur sesungguhnya
Untuk membuat broto kismo, maruto, samudro, condro, suryo, akoso, dahono, kartiko lebih bersinar