
Gedung ini hampir punya cerita sama dengan film Cinema Paradiso. Gedung balai desa yang malamnya berubah fungsi menjadi bioskop dengan putaran proyektor mistis dan poster tendangan Barry Prima muda yang bikin para pemuda terpana.
"Kacang...kacang...kacang"
Pedagang kacang rebus akan menyambut di depan pintu masuk setiap penonton bersarung yang mulai bermunculan dari balik kabut. Sinar petromak yang hanya mampu menyinari separuh wajahnya, membuatnya seperti para tokoh dari film bergaya noir.
Misterius...
Semisterius letaknya yang berada jauh di puncak tertinggi perbukitan seribu Pacitan, sebuah tempat dengan dengan kabut yang datang menyelimuti desa mulai pukul lima. Teman saya berkata; “Osama pasti ada di sini ha ha"
Berdiri karena tokoh setempat yang berhasil di perantauan. Satu paket dengan Monumen Sudirman yang bikin keributan.
Dipikir-pikir...
Bersyukur saya pernah berada dalam era hiburan "padang lengo potro/terang karena minyak tanah" dan menjadi bagian dari hidupnya gedung ini. Keterbatasan hiburan di desa membuat warga berusaha menciptakan hiburannya sendiri.
Indahnya...
Ingatan saya, dari semua pertunjukkan seperti pemutaran film, karaoke ibu-ibu PKK atau sendratari gadis pujaan yang membuat saya betah berada di balik panggung untuk sekedar berpapasan menunggu senyum manisnya, pertunjukan wayang orang adalah headline dengan daya tarik terbesar (loh?).
Dari memasang kostumnya, karakternya, peperangannya, apalagi adegan pasukan kera warna-warni muncul ke panggung bertarung melawan segerombolan buto-buto dengan permainan tukang lighting yang main jeglak jeglek saklar sampai kadang konslet.
Histeris...
Pemerannya adalah warga desa sendiri. Yang biasa menjadi penjagal kambing dan sering menakut-nakuti anak-anak kebagian peran menjadi buto, yang biasa jadi hansip kebagian peran menjadi satrio, yang biasa genit kebagian peran menjadi cakil (bapak saya sering kebagian peran ini). Semuanya begitu menyenangkan karena kita melihat peran-peran yang sesuai dengan karakter aslinya masing-masing. Tidak terlihat palsu, tidak terlihat dibuat-buat.
Di lain sisi, gedung ini mengingatkan aura lagu Led Zeppelin dalam proses pencarian drum sound palu dewa yang paling fenomenal “When the levee break”. Gaung begitu terasa dalam ruangan ini. Memberi sentuhan akustik yang kuat. Ada kesenangan yang saya ingat ketika berlarian dari satu ujung ke ujung lainnya dengan memainkan suara kaki yang menggaung. Dulu saya tidak sadar: “that’s my own music”
Dan di foto ini dengan segala ketidaksempurnaan teknisnya, saya ingin sedikit memperlihatkan kembali gambaran masa gembira, dimensi gedung dan aura gaungnya, sekedar nostalgia untuk pemotretan pre wedding saudari nomor urut 1 yang juga pernah menjadi bagian masa jaya "Gerak dan Lagu" dari gedung ini.
Ah….
Ada masa ketika dulu desa ini begitu hidup dengan segala kemandirian visual yang masih mengenal dirinya sendiri. Sebelum televisi mulai datang dengan harga murah dan memaksa semua orang menjadi Jakartaism
Dulu.
"Kacang...kacang...kacang"
Pedagang kacang rebus akan menyambut di depan pintu masuk setiap penonton bersarung yang mulai bermunculan dari balik kabut. Sinar petromak yang hanya mampu menyinari separuh wajahnya, membuatnya seperti para tokoh dari film bergaya noir.
Misterius...
Semisterius letaknya yang berada jauh di puncak tertinggi perbukitan seribu Pacitan, sebuah tempat dengan dengan kabut yang datang menyelimuti desa mulai pukul lima. Teman saya berkata; “Osama pasti ada di sini ha ha"
Berdiri karena tokoh setempat yang berhasil di perantauan. Satu paket dengan Monumen Sudirman yang bikin keributan.
Dipikir-pikir...
Bersyukur saya pernah berada dalam era hiburan "padang lengo potro/terang karena minyak tanah" dan menjadi bagian dari hidupnya gedung ini. Keterbatasan hiburan di desa membuat warga berusaha menciptakan hiburannya sendiri.
Indahnya...
Ingatan saya, dari semua pertunjukkan seperti pemutaran film, karaoke ibu-ibu PKK atau sendratari gadis pujaan yang membuat saya betah berada di balik panggung untuk sekedar berpapasan menunggu senyum manisnya, pertunjukan wayang orang adalah headline dengan daya tarik terbesar (loh?).
Dari memasang kostumnya, karakternya, peperangannya, apalagi adegan pasukan kera warna-warni muncul ke panggung bertarung melawan segerombolan buto-buto dengan permainan tukang lighting yang main jeglak jeglek saklar sampai kadang konslet.
Histeris...
Pemerannya adalah warga desa sendiri. Yang biasa menjadi penjagal kambing dan sering menakut-nakuti anak-anak kebagian peran menjadi buto, yang biasa jadi hansip kebagian peran menjadi satrio, yang biasa genit kebagian peran menjadi cakil (bapak saya sering kebagian peran ini). Semuanya begitu menyenangkan karena kita melihat peran-peran yang sesuai dengan karakter aslinya masing-masing. Tidak terlihat palsu, tidak terlihat dibuat-buat.
Di lain sisi, gedung ini mengingatkan aura lagu Led Zeppelin dalam proses pencarian drum sound palu dewa yang paling fenomenal “When the levee break”. Gaung begitu terasa dalam ruangan ini. Memberi sentuhan akustik yang kuat. Ada kesenangan yang saya ingat ketika berlarian dari satu ujung ke ujung lainnya dengan memainkan suara kaki yang menggaung. Dulu saya tidak sadar: “that’s my own music”
Dan di foto ini dengan segala ketidaksempurnaan teknisnya, saya ingin sedikit memperlihatkan kembali gambaran masa gembira, dimensi gedung dan aura gaungnya, sekedar nostalgia untuk pemotretan pre wedding saudari nomor urut 1 yang juga pernah menjadi bagian masa jaya "Gerak dan Lagu" dari gedung ini.
Ah….
Ada masa ketika dulu desa ini begitu hidup dengan segala kemandirian visual yang masih mengenal dirinya sendiri. Sebelum televisi mulai datang dengan harga murah dan memaksa semua orang menjadi Jakartaism
Dulu.
